Sabtu, 31 Desember 2011

aku dan kuda besiku

Lubang, asap knalpot, debu, polisi tidur, bunyi klakson yang bertubi-tubi dan segala jenis cacian sering aku dapat ketika sedang mengendarai nya. Walaupun rendah di antara yang lain, tetapi mental untuk tetap "ngebut" tak akan pernah surut. Ban Bocor, bensin habis serta "police problem" pun sering ditemui.
Walaupun begitu, tak akan henti-hentinya ku
memacu sang kuda besi. Ceper di hati.

Kisah ini dimulai ketika seorang anak sma mengenal dunia modifikasi, pada kelas 2 sma dia mendapat motor pertamanya, honda legenda tahun 2000. Karena bentuk standar motor tersebut sangat "masam" buat diliat, dia mencari cara bagaimana caranya agar dapat mengubah tampilan motor nya tersebut menjadi nyaman dilihat. Tanpa disengaja, kakak sepupu dari anak tersebut beraliran modifikasi ceper, maka dia mencari tahu apa itu ceper. Dari situlah dia mulai tertarik untuk memodifikasi motornya dengan aliran ceper. Pertama-tama dia mulai menabung uang jatah kostnya untuk membeli ban. Setelah ban di rubah ke ukuran 200, dia pun melanjutkan dengan memajukan ban belakang, mengganti shock breaker, serta mengecatnya. Keadaan seperti itu berlangsung sampai dia kelas 3 sma.

Saat menginjak bangku kuliah, dia kuliah di rantauan, yaitu semarang. Pada awalnya, kedua orang tuanya tidak mengizinkan motor cepernya dibawa ke semarang, tetapi disimpan di rumah. Dia pun merasa agak kurang tenang, setelah 6 bulan di semarang, dia mendapat kabar bahwa motor cepernya di "standarin" bahkan tingginya pun menjadi 3x lipat. Saat itu dia merasa tertekan, marah dan campur aduk jadi satu. Saat itu kedua orang tua nya berjanji akan mengirimkan motor ke semarang. Sejak saat itu dia mempunyai pikiran "jahat" akan merombak ulang motor tersebut.

3 bulan setelah kejadian itu, dia dikirim sebuah motor, motor supra fit tahun 2005. Dari situ dia mulai merintis sebuah motor dengan aliran ceper. Seperti pengalamannya dulu, dia mulai menyisihkan sedikit jatah uang kostnya, perlahan dia mulai membeli ban, memajukan ban belakang 15senti, mengganti tanki, dan terakhir dia mengganti ban nya ke ukuran besar tanpa mengurangi tinggi motor. Dia pun bergabung dan menjadi anggota Moces (Motor Ceper Semarang).

1 tahun telah berlalu dan dia sangat merasa nyaman dengan keadaan motornya tersebut, walaupun harus membutuhkan tenaga ekstra untuk mengendarainya.

Dia pun mendapatkan seorang pendamping yang mau menerima hoby nya tersebut. Dari situ dia merasa sangat termotivasi. CEPER DI HATI, CEPER NEVER DIE!!!


Dikutip dari : pengalaman pribadi
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Mohon Maaf Jika Terdapat Komentar yang Tidak Terbalas
Karena Admin Tidak Selalu Online