Rabu, 18 Januari 2012

Dulu Cinta Sekarang "Musuh"

Cerita ini berisi kata-kata dan pemikiran fulgar yang mungkin membutuhkan kebijakan dari pembaca.

Kisah perjalanan hidup andi pada "Makan tu Omongan" berlanjut lagi.

Hubungan andi dengan lena berjalan sangat baik dan bahkan semakin lama semakin lengket, kini mereka sudah menginjak semester 7, hampir lulus dari bangku perkuliahan. Dan lain lagi dengan cerita si tino, seorang sahabat yang tenggelam tertelan kemunafikan.
Hubungan andi dengan lena sudah hampir ke jenjang yang serius, kedua orang tuanya pun sudah saling kenal. Tapi terdapat masalah yang cukup vital di antara hubungan mereka

Kedua orang tua mereka ternyata saling tidak setuju jika mereka melanjutkan ke jenjang hubungan yang serius. Masalah tersebut membuat keduanya selalu bingung menghadapinya. Mereka seperti terjebak di antara 2 pilihan, maju jatuh ke jurang, mundur pun di makan singa. Mereka pun menjalin hubungan diam-diam di belakang kedua orang tua mereka. Dari waktu ke waktu hubungan mereka berlanjut, kata-kata putus pun sering terucap dari kedua bibir mereka. Tetapi pasti ada salah seorang yang mengalah dan mencoba menenangkannya. Keduanya pun hampir bingung akan hubungan mereka.

Suatu malam ketika lena pulang ke rumah, kedua orang tua lena pun ingin mengajak lena makan malam bersama teman ayah dan ibunya, dan rencananya mereka akan menjodohkan lena dengan anak dari temannya tersebut.
Suatu malam di sebuah restorant muncul seorang pria mengenakan kemeja hitam dengan celana skinny jeans. Begitu kagetnya lena ketika melihat siapa yang akan dijodohkan dengannya. Tino, begitu pun lena memanggilnya, kaget bukan kepalang lena. Tak jauh beda dengan tino ketika dia melihat siapa wanita yang akan dijodohkan dengannya. Lena, seorang wanita yang dulu pernah menjadi sahabatnya bahkan hampir menjadi musuhnya karena berselisih paham.
Makan malam pun berlangsung, dan mereka berdua pun diam sunyi di tengah-tengah gemuruh celoteh kedua orang tua mereka.

Setelah penjamuan tersebut, lena pun mulai memikirkan tino terus menerus, dan hampir melupakan andi. Telfon dan sms andi pun terabaikan. Begitu sensitifnya perasaan lena ketika restu orang tua berbicara. Lena memikirkan bagaimana andi akan mengambil kesimpulan dari ini semua kalau dia memilih tino sebagai pendampingnya.

Suatu hari di taman kampus, lena dan andi pun berbicara lumayan serius. Mereka membahas kelanjutan hubungan mereka. Dengan penuh ketakutan, lena pun menceritakan apa yang sudah terjadi semalam.
Andi pun kaget dan terdiam pasrah atas itu semua. Dia mencoba tetap tenang dan bersikap dewasa dalam menghadapinya.
Baj*ng*n kamu tinooo!!! kata-kata yang terlintas di benak andi. Andi pun hampir tidak bisa berbicara lagi. Dengan wajah penuh  sisi gelap andi pun enyah meninggalkan lena.

Sejak saat itu, lena pun sering sekali diajak makan bersama keluarga tino. Hari berganti hari mulailah muncul rasa cinta di antara lena dan tino. Tino pun merasa seperti mendapat durian runtuh.
Ternyata sifat jahat yang tertanam pada hati tino untuk andi pun masih tersimpan sampai sekarang. Dia pun sengaja memanfaatkan lena untuk membalas rasa sakit hatinya dulu ke andi.

Perlahan sifat benci dengan andi pun ditanamkan tino pada pola pikir lena. Lena pun dengan bodohnya menerima semua itu. Lena pun sudah hampir tidak berkomunikasi dengan andi. Bahkan nomor HP andi pun dihapus. Semua itu karena doktrin yang diberikan tino.

Akibat doktrin tino tersebut, lena pun mulai menguak sisi negatif andi bahkan memfitnahnya dan menceritakan pada teman-teman dekat andi dan teman-teman sekelasnya. Singkat teman-teman andi pun menjauhinya.

Kini andi benar-benar sendiri, sendiri ditemani sunyi. Seperi hanya sebentar dia merasakan bahagia. Kehilangan sahabat dan orang yang disayang karena faktor balas dendam.

Kini andi pun membenci lena dan tino, seolah-olah mereka hanyalah beban baginya kalau dipikirin terus. Ibarat sesuatu yang mubazir untuk dipikirkan. Cukup sudah andi mengenal lena dan tino.
Kini yang ada dipikiran andi hanyalah "Sendiri Lebih Baik Daripada Hidup Penuh Kemunafikan".





Sebuah cerita fiksi yang apabila terdapat kesamaan nama dan karakter, penulis meminta maaf.
Salam Low!!!
Reaksi: