Kamis, 12 Januari 2012

Makan tu Omongan

Cerita ini berisi kata-kata dan pemikiran fulgar yang mungkin membutuhkan kebijakan dari pembaca.




Fu*k!!! Sebuah kata yang terlintas ketika mengingat sebuah omongan-omongan itu. Hidup mu dipenuhi dengan topeng, topeng yang membuatku muak untuk melihatnya.

Malam itu mungkin dapat dikatakan sebagai parameter, parameter tingkat sandiwaramu. Terlihat dari matamu bagaimana "kamu" memainkan tokoh dalam sandiwara. Berusaha terlihat benar di mata orang, tapi nyatanya nol! salah besar. Asal "kamu" tau, muak ku sudah melebihi batas over dosis. Tersenyum geram aku melihatnya


Pikiran tersebut yang memenuhi otak Andi, begitu dia sangat membenci seseorang yang dianggapnya benar pada masa lalunya, ternyata sekarang menjadi racun baginya dan semua kehidupannya. Andi seorang mahasiswa yang tergolong pendiam di kelasnya, seorang mahasiswa pendiam yang mempunyai mimpi dikelak kemuadian hari. Cukup lama dia mempunyai seorang teman baik, teman baik yang sangat peduli dengannya, teman baik yang sangat dekat dengannya. Tino, panggilan akrabnya. Tino dan andi sudah berteman ketika mereka di SMA dan sekarang tetap menjadi "teman" ketika mereka menginjak semester 6. Bertahun-tahun seudah mereka bersama, dalam suka maupun duka.

Persahabatna mereka pun mulai retak ketika ada seorang wanita yang bernama lena yang menjadi teman akrab mereka berdua saat memasuki bangku perkuliahan, awalnya mereka baik-baik saja. Sampai suatu ketika andi pun menaruh rasa suka pada lena. Dari sini lah persahabatan mereka mulai retak. Saat mereka bertiga saling bersahabat, terlihat sekali kedekatan antara tino dengan lena, mereka sering jalan berdua, makan bareng dan selalu bersama tetapi tidak ada rasa diantara mereka berdua, mereka hanya bersahabat. Beda dengan andi, dia terlihat sangat jauh dan terkesan menjauh dengan lena, tetapi dalam hati andi tersimpan rasa yang sangat besar untuk lena. Sejak andi mempunyai perasaan tersebut, dia terkesan menjauh dari lena dan tino, tetapi ketika lena dan tino selalu bersama, andi merasa cemburu dengan tino. Sungguh "pecundang" andi karena dia tidak berani dan mampu untuk mengungkapkan rasanya tersebut. Dia menjauh dan rela cemburu bahkan sakit hati ketika lena dan tino jalan berdua hanya untuk menjaga hubungan persahabatan mereka. Niat baik andi tersebut salah besar dengan keadaan yang ada. Tino dan lena pun merasa andi sudah tidak peduli dengan mereka.
Andi pun menyadari hal tersebut, dia bimbang apa yang harus dilakukan. Dia pun mencari solusi untuk masalah tersebut. Dengan penuh keberanian dan kekuatan, andi mencoba mengungkapkan persaan dan niat baiknya dulu kepada lena, dan lena pun membalas dengan penuh harapan dari andi, lena pun sekarang sudah mengerti kenapa dulu andi menjauhi dia dan tino.

Ternyata dari solusi yang sudah dilakukan andi, terdapat sebuah masalah lagi, ternyata tino mempunyai sifat lebih "pecundang" dari pada andi, dia juga cemburu ketika andi selalu bersama-sama dengan lena dan jarang dengan dia. Dan dia tidak akan mengungkapkan rasanya tersebut apa pun yang terjadi.
Sejak saat itu, tino pun menghilang dan menjauh dari mereka berdua. Andi dan lena pun sudah mencoba untuk bertanya ke tino kenapa dia menjauh, tapi kata-kata yang keluar dari mulut tino selalu "egk apa-apa","egk apa-apa" dan "egk apa-apa". Kata-kata itu yang selalu keluar. Andi dan lena pun sudah merasa tenang walaupun ada sedikit kekhawatiran.

Di balik jawaban "egk apa-apa" nya tino, terbesit sebuah niat jahat, karena dia benci melihat andi dan lena selalu bersama, dia pun mulai berkata yang tidak-tidak tentang andi dan lena dan selalu membuat mereka berdua salah bahkan menjadi tersangka setiap ada permasalahan di lingkungan mereka.  Andi pun mulai muak dengan kenyataan tersebut.

Pada suatu malam andi dan lena pun sengaja menanyakan lagi ke tino tentang perubahan sifat dia, tino pun selalu menjawab "egk apa-apa".
Teman macam apa seperti itu! Fu*k for your mouth!!!
Kamu mau hidup dengan topengmu! Anji*g! kata-kata tersebut yang selalu terbesit dalam pikiran andi.

Sejak saat itu andi dan lena pun menjauh dari tino. Mereka berdua bingung apa yang harus dilakukan. Bahkan tino pun seperti tidak mengenal mereka berdua.
Janji yang dulu pernah mereka ikrarkan hanya sebuah isapan jempol belaka.
Kecemburuan dan keegoisan yang merusak segalanya.

Sekarang mereka bertiga hanyalah orang biasa yang hidup dengan kehidupan mereka sendiri-sendiri.


#Kisah selanjutnya pun akan segera dibuat.




Sebuah cerita fiksi yang apabila terdapat kesamaan nama dan karakter, penulis meminta maaf.
Salam Low!!!

Reaksi: